Kualitas Madu Apis Mellifera Dari Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak Berdasarkan Lama Pengurangan Kadar Air
Romadlon, Hanapi Dwi
Madu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang banyak diminati
oleh masyarakat karena memiliki banyak manfaat. Madu merupakan cairan alami
yang pada umumya memiliki rasa manis berasal dari sari bunga tanaman tanaman
(floral nektar) atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral nektar) ataupun berasal
dari ekskresi serangga. Madu dapat diperoleh secara alami dan juga budidaya.
Budidaya madu di Kecamatan Sungai Mandau memiliki kualitas yang belum sesuai
degan SNI pada beberapa parameternya. Oleh karena itu perlu dilakukan
peningkatan kualitas. Peningkatan kualitas madu dapat dilakukan dengan
pengurangan kadar air menggunakan vakum evaporator. Berdasarkan hal tersebut
perlu dilakukan pengujian kualitas madu Apis mellifera berdasarkan lama
pengurangan kadar air guna untuk mengetahui kualitas madu setelah dilakukan
pengurangan kadar air selama 12 dan 24 jam serta membandingkan dengan SNI
8664:2018.
Penelitian ini dilakukan dengan mengurangi kadar air menggunakan vakum
evaporator selama 12 dan 24 jam. Setelah itu dibandingkan dengan SNI 8664:2018.
Adapun paremeter yang di uji ialah: kadar air, berat jenis, aktifitas enzim eiastase,
Hidroximetilfurfural (HMF), kadar gula total, kadar abu, keasaman dan padatan tak
larut.
Hasil penelitian ini ialah madu yang telah dilakukan pengurangan kadar air
selama 12 jam memiliki kadar air 19,15%, berat jenis1,434, aktifitas enzim diastase
11,75 DN, Hidroximetilfurfural (HMF) 0,21 mg/kg, kadar gula total 75,53 %Brix,
kadar abu 0,1622%b/b, keasaman 47,33 ml/NaOH/kg dan padatan tak larut 0,57
%b/b. Sedangkan madu yang telah dilakukan pengurangan kadar air selama 24 jam
memiliki kadar air 17,59 %, berat jenis 1,482, aktifitas enzim diastase 9,43 DN,
Hidroximetilfurfural (HMF) 0,67 mg/kg, kadar gula total 76 %Brix, kadar abu
0,676%b/b, keasaman 44,43 ml dan padatan tak larut0,59%b/b.
Parameter kualitas madu yang telah ditetapkan SNI 8664:2018 ialah; Kadar
air madu maksimal 22%, Aktifitas Enzim Diastase minimal 3 DN,
Hidroximetilfurfural (HMF) maksimal 40 mg/kg, kadar abu maksimal 0,5%b/b,
keasaman maksimal 50 ml/NaOH/kg dan padatan tak larut 0,5 %b/b. Berdasarkan
hal tersebut di atas, hasil pengujian yang telah dilakukan pada madu yang telah
dilakukan pengurangan kadar air selama 12 dan 24 jam sesuai dengan batas yang
telah ditetapkan SNI 8664:2018 pada setiap parameternya.
oleh masyarakat karena memiliki banyak manfaat. Madu merupakan cairan alami
yang pada umumya memiliki rasa manis berasal dari sari bunga tanaman tanaman
(floral nektar) atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral nektar) ataupun berasal
dari ekskresi serangga. Madu dapat diperoleh secara alami dan juga budidaya.
Budidaya madu di Kecamatan Sungai Mandau memiliki kualitas yang belum sesuai
degan SNI pada beberapa parameternya. Oleh karena itu perlu dilakukan
peningkatan kualitas. Peningkatan kualitas madu dapat dilakukan dengan
pengurangan kadar air menggunakan vakum evaporator. Berdasarkan hal tersebut
perlu dilakukan pengujian kualitas madu Apis mellifera berdasarkan lama
pengurangan kadar air guna untuk mengetahui kualitas madu setelah dilakukan
pengurangan kadar air selama 12 dan 24 jam serta membandingkan dengan SNI
8664:2018.
Penelitian ini dilakukan dengan mengurangi kadar air menggunakan vakum
evaporator selama 12 dan 24 jam. Setelah itu dibandingkan dengan SNI 8664:2018.
Adapun paremeter yang di uji ialah: kadar air, berat jenis, aktifitas enzim eiastase,
Hidroximetilfurfural (HMF), kadar gula total, kadar abu, keasaman dan padatan tak
larut.
Hasil penelitian ini ialah madu yang telah dilakukan pengurangan kadar air
selama 12 jam memiliki kadar air 19,15%, berat jenis1,434, aktifitas enzim diastase
11,75 DN, Hidroximetilfurfural (HMF) 0,21 mg/kg, kadar gula total 75,53 %Brix,
kadar abu 0,1622%b/b, keasaman 47,33 ml/NaOH/kg dan padatan tak larut 0,57
%b/b. Sedangkan madu yang telah dilakukan pengurangan kadar air selama 24 jam
memiliki kadar air 17,59 %, berat jenis 1,482, aktifitas enzim diastase 9,43 DN,
Hidroximetilfurfural (HMF) 0,67 mg/kg, kadar gula total 76 %Brix, kadar abu
0,676%b/b, keasaman 44,43 ml dan padatan tak larut0,59%b/b.
Parameter kualitas madu yang telah ditetapkan SNI 8664:2018 ialah; Kadar
air madu maksimal 22%, Aktifitas Enzim Diastase minimal 3 DN,
Hidroximetilfurfural (HMF) maksimal 40 mg/kg, kadar abu maksimal 0,5%b/b,
keasaman maksimal 50 ml/NaOH/kg dan padatan tak larut 0,5 %b/b. Berdasarkan
hal tersebut di atas, hasil pengujian yang telah dilakukan pada madu yang telah
dilakukan pengurangan kadar air selama 12 dan 24 jam sesuai dengan batas yang
telah ditetapkan SNI 8664:2018 pada setiap parameternya.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2024
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-11-25T04:36:17Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah