Kearifan Lokal Masyarakat Hutan Adat Imbo Putui Desa Petapahan Dalam Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu
Depari, Sri Kancan Aljabarin
Kearifan setempat yang dapat dipahami sebagai gagasan, nilai-nilai,
pandangan-pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai
baik dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal, khususnya dalam
pemanfaatan hasil hutan, merupakan praktik yang telah lama dijalankan oleh
masyarakat adat, seperti masyarakat adat Petapahan yang tinggal di sekitar Hutan
Adat Imbo Putui. Masyarakat ini telah mengembangkan sistem pengelolaan hutan
adat yang berkelanjutan, dengan memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu
(HHBK) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan mendeskripsikan kearifan lokal masyarakat adat Petapahan
dalam pemanfaatan HHBK, dengan harapan dapat memberikan informasi bagi
masyarakat dan pemerintah daerah mengenai kearifan lokal masyarakat adat
Petapahan dalam memanfaatkan hasil hutan bukan kayu dan jenis-jenis hasil
hutan bukan kayu yang ada di Hutan Adat Imbo Putui sehingga keberadaannya
dapat dikelola dengan baik dan lestari.
Penelitian ini menggunakan data primer berupa hasil observasi di lapangan,
wawancara mendalam dan pengisian kuisioner kepada masyarakat adat Petapahan
untuk mendapatkan informasi penting terkait jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh
masyarakat adat Petapahan dan kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat
dalam mengelola dan memanfaatkan HHBK di Hutan Adat Imbo Putui. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang
digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam. Data yang disajikan oleh
peneliti merupakan hasil dari observasi, wawancara, dan dokumentasi peneliti
dengan masyarakat adat sekitar hutan dan pihak yang terkait. Analisis data yang
diuraikan dalam bentuk narasi dihubungan dengan hasil wawancara agar apa yang
dilihat, didengar dan didapat dari subjek penelitian dapat diuraikan secara rinci
dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa jenis HHBK
yang dimanfaatkan oleh masyarakat Adat Petapahan adalah madu kelulut
(Heterotrigona itama), pasak bumi (Eurycoma longifolia), rotan (Calamus
rotang), tanaman senduduk (Melastoma malabathricum), sirih (Piper betle),
bawang dayak (Eleutherine Sp.), jahe (Zingiber officinale), bambu (Bambusa sp),
akar tuba (Derris elliptica), daun pandan (Pandanus odoratissimus) dan ikan air
tawar. Beberapa jenis kearifan lokal dalam memanfaatkan HHBK yaitu
pembuatan kerajinan tudung saji oleh perempuan adat, tradisi manubo dan
larangan seperti berburu binatang serta larangan menebang pohon secara liar dan
beberapa sanksi seperti memberi 50 sak semen bagi masyarakat yang menebang
pohon sembarangan atau memotong kambing atau kerbau disesuaikan dengan
kesalahan yang diperbuat.
pandangan-pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai
baik dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal, khususnya dalam
pemanfaatan hasil hutan, merupakan praktik yang telah lama dijalankan oleh
masyarakat adat, seperti masyarakat adat Petapahan yang tinggal di sekitar Hutan
Adat Imbo Putui. Masyarakat ini telah mengembangkan sistem pengelolaan hutan
adat yang berkelanjutan, dengan memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu
(HHBK) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan mendeskripsikan kearifan lokal masyarakat adat Petapahan
dalam pemanfaatan HHBK, dengan harapan dapat memberikan informasi bagi
masyarakat dan pemerintah daerah mengenai kearifan lokal masyarakat adat
Petapahan dalam memanfaatkan hasil hutan bukan kayu dan jenis-jenis hasil
hutan bukan kayu yang ada di Hutan Adat Imbo Putui sehingga keberadaannya
dapat dikelola dengan baik dan lestari.
Penelitian ini menggunakan data primer berupa hasil observasi di lapangan,
wawancara mendalam dan pengisian kuisioner kepada masyarakat adat Petapahan
untuk mendapatkan informasi penting terkait jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh
masyarakat adat Petapahan dan kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat
dalam mengelola dan memanfaatkan HHBK di Hutan Adat Imbo Putui. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang
digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam. Data yang disajikan oleh
peneliti merupakan hasil dari observasi, wawancara, dan dokumentasi peneliti
dengan masyarakat adat sekitar hutan dan pihak yang terkait. Analisis data yang
diuraikan dalam bentuk narasi dihubungan dengan hasil wawancara agar apa yang
dilihat, didengar dan didapat dari subjek penelitian dapat diuraikan secara rinci
dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa jenis HHBK
yang dimanfaatkan oleh masyarakat Adat Petapahan adalah madu kelulut
(Heterotrigona itama), pasak bumi (Eurycoma longifolia), rotan (Calamus
rotang), tanaman senduduk (Melastoma malabathricum), sirih (Piper betle),
bawang dayak (Eleutherine Sp.), jahe (Zingiber officinale), bambu (Bambusa sp),
akar tuba (Derris elliptica), daun pandan (Pandanus odoratissimus) dan ikan air
tawar. Beberapa jenis kearifan lokal dalam memanfaatkan HHBK yaitu
pembuatan kerajinan tudung saji oleh perempuan adat, tradisi manubo dan
larangan seperti berburu binatang serta larangan menebang pohon secara liar dan
beberapa sanksi seperti memberi 50 sak semen bagi masyarakat yang menebang
pohon sembarangan atau memotong kambing atau kerbau disesuaikan dengan
kesalahan yang diperbuat.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2025
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2025-09-22T03:29:33Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah